Hai, Pernah gak sih, tanpa pikir panjang, kalimat ini meluncur dari mulut kita? "Coba deh, kamu tuh rajin kayak kakakmu!"; "Kenapa sih kamu gak bisa tenang dikit kayak si Luke?"; "Lihat tuh, temanmu pinter banget, masa kamu gitu aja gak bisa?". Satu kebiasaan yang sering banget kita lakuin tanpa sadar, bahkan mungkin udah jadi insting. Apalagi kalau lagi capek atau bete.
Niat kita? Jelas baik! Kita pengen anak punya role model,
pengen dia termotivasi, pengen dia berubah jadi lebih baik. Tapi, sadar gak
sih, kalau kebiasaan ini justru seperti 'rem tangan' buat
kesehatan mental mereka? Bukan bikin anak maju, tapi bikin dia 'nyetir' dengan
susah payah, bahkan bisa selip dan jatuh!
Kok Bisa Bahaya? Nah, Begini Kata Ahli...
Para pakar psikologi bilang, kebiasaan ini tuh gak main-main dampaknya.
Bayangin, setiap kali kita bandingin anak, kita tuh kayak 'nyiramin
bensin' ke api yang udah nyala di dalam hatinya, yaitu api
perbandingan diri. Anak mulai mikir, "Aku tuh ternyata gak cukup
baik di mata Mama/Papa."
Dr. Jolie Silva, PhD, psikolog dari New York Behavioral Health, dengan
tegas bilang kalau kebiasaan ini bisa memicu rendah diri, depresi,
kecemasan (anxiety), sampai penurunan prestasi di sekolah. Bahkan,
lebih parahnya lagi, ini bisa jadi pemicu munculnya pikiran untuk menyakiti
diri sendiri. Ngeri, kan?
Beliau juga ngingetin, "Dunia luar tuh udah kejam banget
buat nuntut anak kita harus begini dan begitu. Apalagi sekarang dengan medsos,
mereka udah dibanjiri standar gak jelas. Rumah tuh harusnya jadi tempat paling
aman, bukan malah jadi sumber pertama mereka merasa 'kurang'."
Terus, Gimana Dong? Harus Ngomong Apa?
Nah, daripada ngebandingin, Dr. Silva kasih tips jitu yang gampang
banget diterapin ini:
1. Ganti Perintah dengan Ngobrol Santai (Pake Pertanyaan!)
Coba ajak anak diskusi santai. Misalnya, kalau anak males belajar, gak
usah bilang "Tuh, contoh adikmu, rajin.", Tapi coba
tanya, "Nak, menurut kamu, enaknya belajar tuh gimana, sih? Terus,
kalau kita gak belajar, kira-kira akibatnya apa, ya?" Dengan
gitu, anak jadi mikir sendiri dan sadar. Dia akan berubah karena keinginan dari
dalam dirinya sendiri, bukan karena iri atau takut dimarahin. Lebih berasa,
kan?
2. "Iya, Nak, Mamah/Papah Ngerti Kok." (Validasi Perasaan)
Kalau anak lagi takut atau sedih, kita sering refleks bilang, "Ah,
gitu aja kok takut," atau "Gak usah nangis, itu mah
sepele." Semua itu kita lakuin semata karena pengen mereka cepet
tenang. Tapi, efeknya malah bikin anak ngerasa emosinya gak penting atau
'salah'. Akhirnya dia jadi pendiam.
Mulai sekarang, coba praktekkan tehnik validasi.
Misalnya, "Iya, Nak, Mamah paham kamu pasti takut banget ya
menghadapi ujian besok. Wajar kok, semua orang juga begitu. Makanya, yuk kita siapin bareng-bareng biar kamu lebih pede besok." Nah, setelah kita ngakuin perasaan dia, baru deh kita tawarin
dukungan. Ini bakal bikin anak ngerasa didengar dan lebih percaya diri.
3. Puji Usahanya, Bukan Cuma Bilang "Kamu Hebat"
Memang sih, bilang "Kamu pinter banget!" itu menyenangkan.
Tapi, penelitian dari jurnal Developmental Psychology (2018)
ngebuktiin kalau memuji proses atau usaha itu jauh lebih ampuh
buat bikin anak tangguh dan gak gampang menyerah.
Jadi, daripada bilang "Wah, gambarmu bagus!", coba
ganti dengan "Ibu suka banget sama detailnya, kamu sabar banget ya
mewarnai sampai selesai. Luar biasa!". Bedanya, kalau kita puji bakat,
anak takut gagal karena dia pikir bakatnya udah mentok. Tapi kalau kita puji
usaha, dia jadi punya growth mindset—pola pikir bahwa dia bisa
terus berkembang kalau mau berusaha.
Inget, Kita Cuma Manusia Biasa...
Di akhir obrolan ini, gue pengen elo inget satu hal: Gak ada
orang tua yang sempurna. Kita semua belajar sambil jalan. Kadang jatuh,
kadang bangun lagi. Yang penting bukan gak pernah salah, tapi kemauan kita
untuk terus belajar dan memaklumi diri sendiri.
Dengan menghindari 'jebakan perbandingan' dan mulai mendengarkan dunia
emosi anak, kita udah menanam benih yang luar biasa buat masa depan mereka.
Kita jadi 'rumah' yang bener-bener jadi tempat pulang yang aman buat mereka.
Keep fighting, Sahabatku! Kita pasti bisa! 💪
Referensi & Sumber Ahli (Biar Makin Mantap) :
- Dr. Jolie
Silva, PhD dari New
York Behavioral Health (Pakar psikologi yang ngasih pandangan soal bahaya
perbandingan dan cara komunikasi yang reflektif).
- Frontiers
in Psychiatry (2019) -
Studi yang nunjukin jelas hubungan antara rendah diri akibat pola asuh
dengan risiko depresi, kecemasan, hingga ide bunuh diri pada anak usia
sekolah.
- Developmental
Psychology (2018) -
Penelitian yang membuktikan bahwa pujian untuk usaha itu jauh lebih
efektif buat motivasi belajar anak daripada pujian untuk bakat bawaan.

Komentar
Posting Komentar