Langsung ke konten utama

STOP! Jangan Marah Dulu! Ini Cara Tepat Hadapi Anak yang Suka Memukul

Pernah nggak sih, Bunda dan Ayah, dibuat kaget sekaligus khawatir saat si kecil yang imut tiba-tiba melayangkan tangan ke teman mainnya? Atau mungkin, ke Bunda sendiri? Tenang, Bunda dan Ayah nggak sendirian! Banyak orang tua yang mengalami fase "baby fighter" ini. Kabar baiknya, perilaku ini adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang anak, lho!

Kenapa Si Kecil Bisa Agresif?

Pertama-tama, mari kita lihat dulu dari sudut pandang si kecil. Bayangkan, Bunda dan Ayah punya perasaan dan keinginan yang kuat, tapi belum bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Pasti frustasi, kan? Nah, itulah yang dialami balita usia 2 tahun. 

1. Ekspresi Frustasi Tanpa Kata-Kata
Menurut psikolog anak Emily Mudd, PhD, anak-anak di tahap ini cenderung menggunakan ekspresi fisik untuk mengungkapkan rasa frustrasi karena kemampuan bahasa mereka belum memadai . Memukul, menggigit, atau menendang bukanlah tindakan jahat, melainkan cara mereka berkomunikasi. Mereka mungkin merasa lapar, ngantuk, bosan, atau kewalahan, dan memukul adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk mengatakan, "Aku nggak nyaman!" 

2. Masa "Egosentris" yang Wajar
Anak usia 2 tahun berada pada fase egosentris. Mereka belum bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan merasa "pokoknya harus sesuai mauku" . Ini adalah proses kognitif alami, bukan berarti mereka anak yang egois atau nakal . Mereka juga berada di fase "terrible two", di mana keinginan untuk mandiri bertabrakan dengan kemampuan yang masih terbatas . Saat keinginan ini tidak terpenuhi, ledakan emosi pun terjadi.

3. Energi Melimpah
Anak usia ini memiliki energi yang sangat besar. Jika energi tersebut tidak tersalurkan dengan baik, mereka bisa meluapkannya melalui tindakan fisik seperti memukul, menendang, atau melempar. Aktivitas pasif yang terlalu lama justru bisa menjadi pemicu.


Bukan Anak Nakal, Ini Proses Belajar!

Ini poin penting yang harus dipegang teguh oleh orang tua: perilaku memukul adalah bagian dari proses belajar anak untuk mengekspresikan diri . Tugas kita bukanlah menghakimi atau melabeli mereka "nakal", karena hal itu bisa mempengaruhi konsep diri mereka di masa depan . Kita adalah guru mereka, dan panduan kita sangat menentukan.


Apa yang Bisa Dilakukan?

Daripada panik dan marah, yuk kita ubah pendekatan kita dengan cara yang lebih positif dan efektif.

1. Tetap Tenang, Jadilah Contoh
Ketika anak memukul, langkah pertama yang paling penting adalah tetap tenang. Jika Bunda dan Ayah merespons dengan emosi yang sama, misalnya membentak, ini justru akan memperburuk situasi dan meningkatkan agresi anak. Anak belajar dari contoh. Tunjukkan cara mengelola emosi dengan baik .

2. Salurkan Energi dengan Aktivitas Fisik
Ajak anak bermain di luar ruangan, bersepeda, berlari, atau bermain di taman terbuka. Aktivitas fisik yang maksimal dapat membantu menyalurkan energi berlebih mereka dengan cara yang positif.

3. Ajarkan Alternatif yang Lebih Baik
Saat anak sudah tenang, ajak bicara perlahan. Bantu mereka mengenali emosinya, misalnya, "Kamu marah ya tadi karena mainannya diambil?" . Lalu, ajarkan cara lain untuk mengungkapkan perasaan, misalnya dengan kata-kata atau meminta bantuan orang dewasa. Katakan bahwa marah itu wajar, tapi memukul tidak boleh . Bunda dan Ayah juga bisa mengajak mereka memukul bantal sebagai alternatif yang aman .

4. Gunakan Konsekuensi Logis, Bukan Hukuman
Jika anak memukul teman, pindahkan dia dari area bermain sejenak (time-out 1-2 menit sudah cukup) . Ini mengajarkan bahwa ada konsekuensi atas perilaku agresif. Hindari hukuman fisik karena akan menjadi contoh buruk dan berpotensi menimbulkan trauma .

5. Perbanyak Pujian untuk Perilaku Baik
Jangan hanya fokus pada perilaku buruk. Berikan perhatian dan pujian yang spesifik saat anak bersikap baik, misalnya saat dia mau berbagi atau bermain dengan lembut. Pujian positif lebih efektif daripada sekadar menghukum .

6. Manfaatkan Waktu Bermain
Dunia anak adalah bermain. Gunakan permainan peran, seperti dokter-dokteran atau bermain boneka, untuk melatih rasa empati dan cara memperlakukan orang lain dengan baik. Selain itu, bacakan cerita tentang tolong-menolong dan kerja sama untuk menumbuhkan rasa empati .


Kapan Harus ke Psikolog?

Jika perilaku agresif terus berlanjut hingga anak berusia di atas 7 tahun, mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membahayakan diri sendiri dan orang lain, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau dokter tumbuh kembang. Ini bukan berarti anak "sakit", melainkan upaya untuk memetakan karakternya sehingga Bunda dan Ayah bisa menerapkan pola asuh yang lebih tepat sasaran .

Menghadapi anak yang suka memukul memang menguji kesabaran. Namun, dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan konsisten, Bunda dan Ayah akan membantunya melewati fase ini dengan baik. Ingat, di balik setiap pukulan kecil, ada si kecil yang sedang belajar menjadi pribadi yang lebih baik.


Referensi:

  1. Ibupedia. (2019). 9 Cara Mengatasi Anak Yang Hobi Memukul .
  2. Kompas.com. (2024). Tips Menghadapi Anak yang Agresif dan Suka Memukul .
  3. Hellosehat. (2025). Saya bingung .
  4. Hellosehat. (2025). dok bagaimana cara mengatasi anak yang sulit mengendalikan emosi? .
  5. Hellosehat. (2022). Membentak anak usia 2 tahun .
  6. School of Parenting. (2022). Kenalan Sama Fase "Terrible Two" Pada Anak Yuk! .
  7. Pa&Ma. (2018). Mencecah 2 Tahun Anak Mula Tunjuk Ego. Marah Pun Tak Guna, Tapi Ada Caranya! .
  8. Hellosehat. (2024). 6 Cara Mengatasi Anak Suka Memukul, Tak Perlu Marah-Marah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernah Panik Lihat Anak Stres? Ini Cara Membangun Mental Tangguh Tanpa Menghindari Masalah (Resiliensi Part.1)

  Pernah nggak sih, Bunda dan Ayah, melihat anak sedang rewel atau cemas lalu langsung deg-degan? Pengen buru-buru menghilangkan semua sumber kesulitannya? Tenang, kita semua pernah di posisi itu. Tapi, tahukah Anda bahwa  tidak semua stres itu buruk ? Bahkan, stres dengan dosis yang tepat justru bisa menjadi  bahan bangunan  untuk membentuk mental anak yang tangguh. Konsep inilah yang dalam dunia psikologi disebut  resiliensi .  Bukan Sekadar Bertahan, Tapi Tumbuh Para ahli sepakat bahwa resiliensi bukanlah sesuatu yang  magis  atau bawaan lahir . Ini adalah kemampuan yang bisa dipelajari dan dikembangkan oleh setiap anak—mencakup tingkah laku, pikiran, dan tindakan . Profesor Emmy Werner, melalui penelitian legendarisnya di Kauai, menemukan bahwa anak-anak yang berhasil bangkit dari keterpurukan—bahkan dari kondisi yang sangat berat sekalipun—bukan karena mereka anak "istimewa" sejak lahir. Faktor paling kuat yang membedakan mere...

Infografis: Anak Sering Berantem? Jangan Jadi Wasit, Jadilah Pelatih!

  Pernah nggak sih, Bunda dan Ayah, rasanya hampir setiap hari harus jadi "hakim" yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah di antara si kakak dan adik? Tenang, Bunda dan Ayah nggak sendirian. Pertengkaran antar saudara itu adalah pemandangan yang sangat umum di rumah tangga dengan lebih dari satu anak. Menurut psikolog anak di Johns Hopkins Children’s Center, Jeff Garofano, PhD, konflik ringan antar saudara kandung adalah hal yang wajar dan bahkan bisa berkontribusi pada proses perkembangan anak . Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa 80 persen anak pernah menunjukkan perilaku penyerangan terhadap saudaranya, misalnya memukul . Nah, kalau pertengkaran adalah hal yang normal, lalu bagaimana sikap orang tua yang tepat? Kuncinya ada pada perubahan peran.  Jangan bertindak sebagai wasit yang menghakimi, tapi jadilah pelatih yang membimbing! Mengapa Mereka Bertengkar? Memahami akar masalah adalah langkah pertama yang penting. Ada beberapa pemicu utama ya...