Langsung ke konten utama

Infografis: Anak Sering Berantem? Jangan Jadi Wasit, Jadilah Pelatih!

 Pernah nggak sih, Bunda dan Ayah, rasanya hampir setiap hari harus jadi "hakim" yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah di antara si kakak dan adik? Tenang, Bunda dan Ayah nggak sendirian. Pertengkaran antar saudara itu adalah pemandangan yang sangat umum di rumah tangga dengan lebih dari satu anak. Menurut psikolog anak di Johns Hopkins Children’s Center, Jeff Garofano, PhD, konflik ringan antar saudara kandung adalah hal yang wajar dan bahkan bisa berkontribusi pada proses perkembangan anak . Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa 80 persen anak pernah menunjukkan perilaku penyerangan terhadap saudaranya, misalnya memukul .

Nah, kalau pertengkaran adalah hal yang normal, lalu bagaimana sikap orang tua yang tepat? Kuncinya ada pada perubahan peran. Jangan bertindak sebagai wasit yang menghakimi, tapi jadilah pelatih yang membimbing!

Mengapa Mereka Bertengkar?

Memahami akar masalah adalah langkah pertama yang penting. Ada beberapa pemicu utama yang sering terjadi:

1. Pertengkaran adalah "Medan Latihan" Alami

Daripada panik, coba lihat dari sisi positif. Pertengkaran adalah tempat anak belajar keterampilan hidup yang sangat berharga. Psikolog Reynitta Poerwito menyatakan bahwa melalui persaingan dan pertengkaran, anak-anak belajar cara menyelesaikan konflik, menjadi pribadi yang asertif (percaya diri namun tetap menghargai orang lain), dan belajar berkompromi . Ini adalah "laboratorium" alami bagi mereka untuk memahami cara memecahkan masalah, bernegosiasi, dan mengelola emosi besar yang mereka rasakan .

2. Haus Perhatian Orang Tua

Seringkali, pertengkaran dipicu oleh perebutan perhatian. Anak-anak bisa merasa harus bersaing untuk mendapatkan "porsi" kasih sayang dan perhatian utama dari orang tuanya . Rasa haus perhatian ini muncul ketika mereka merasa hubungannya dengan orang tua terancam oleh kehadiran saudara lain .

3. Dampak Buruk Membanding-bandingkan

Ini adalah salah satu dosa besar dalam pengasuhan. Perasaan tidak adil atau sering dibanding-bandingkan dengan saudara lain bisa memicu dendam dan kecemburuan yang mendalam . Ketika anak merasa diperlakukan berbeda, pertengkaran menjadi pelampiasan dari perasaan negatif tersebut.

 

Bukan Wasit, Tapi Pelatih: Strategi Jitu di Rumah

Lalu, apa yang harus dilakukan? Berikut beberapa strategi yang bisa langsung dipraktikkan:

1.       Puji Saat Mereka Akur

Jangan hanya fokus pada saat ribut. Berikan apresiasi besar saat mereka bisa bermain bersama atau berbagi. Sebuah pujian sederhana, "Hebat! Kalian berbagi mainan dengan baik," akan memperkuat perilaku positif dan membuat mereka ingin mengulanginya .

2.       Buat Aturan Saat Suasana Tenang

Jangan buat aturan di tengah amarah. Saat suasana hati sedang baik, ajak anak-anak berdiskusi tentang aturan main di rumah, seperti berbicara dengan sopan dan bergantian menggunakan mainan. Dengan begitu, mereka lebih mudah menerima dan mengingat aturan tersebut.

3.       Cari Jalan Tengah Bersama

Ini adalah inti dari menjadi seorang "pelatih". Saat mereka bertengkar, tahan diri untuk langsung memberi vonis. Alih-alih mendikte solusi, ajarkan mereka untuk menyelesaikan masalah bersama. Bimbing mereka dengan pertanyaan seperti, "Kira-kira, bagaimana cara yang adil agar kalian berdua bisa memakai mainan ini?" Dengan begitu, mereka belajar berpikir kreatif dan bertanggung jawab atas solusi yang mereka temukan .

4.       Beri Contoh Langsung

Anak adalah peniru ulung. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar. Saat Ayah dan Ibu berhadapan dengan konflik atau perbedaan pendapat, tunjukkan cara menyelesaikannya dengan tenang, saling menghargai, dan berdamai. Ini adalah pelajaran paling kuat yang bisa mereka terima .

 

Kesimpulan

Jadi, Bunda dan Ayah, menghadapi pertengkaran anak itu memang melelahkan, tapi ingatlah bahwa ini adalah bagian dari proses mereka tumbuh dewasa. Dengan berubah dari "wasit" yang menghukum menjadi "pelatih" yang membimbing, kita tidak hanya menghentikan pertengkaran sesaat, tapi juga membekali mereka dengan kemampuan memecahkan masalah yang akan berguna seumur hidup.


Referensi & Kutipan Psikolog:

  • Jeff Garofano, PhD, psikolog anak di Johns Hopkins Children’s Center, menekankan bahwa konflik ringan antar saudara kandung adalah wajar dan dapat berkontribusi pada proses perkembangan anak .
  • Psikolog Reynitta Poerwito menyatakan bahwa sibling rivalry tidak selalu negatif dan bisa mengajarkan anak cara menyelesaikan konflik, menjadi asertif, dan mengenal kekuasaan .
  • Dr. Hans Saputra, EdD, Relationship Coach, menyebut pertengkaran sebagai learning opportunity atau kesempatan belajar yang berharga tentang problem solving, komunikasi, dan regulasi emosi .
  • Penelitian menunjukkan bahwa 80 persen anak pernah menunjukkan perilaku penyerangan terhadap saudaranya, yang menandakan bahwa ini adalah fenomena umum dalam tumbuh kembang .

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernah Panik Lihat Anak Stres? Ini Cara Membangun Mental Tangguh Tanpa Menghindari Masalah (Resiliensi Part.1)

  Pernah nggak sih, Bunda dan Ayah, melihat anak sedang rewel atau cemas lalu langsung deg-degan? Pengen buru-buru menghilangkan semua sumber kesulitannya? Tenang, kita semua pernah di posisi itu. Tapi, tahukah Anda bahwa  tidak semua stres itu buruk ? Bahkan, stres dengan dosis yang tepat justru bisa menjadi  bahan bangunan  untuk membentuk mental anak yang tangguh. Konsep inilah yang dalam dunia psikologi disebut  resiliensi .  Bukan Sekadar Bertahan, Tapi Tumbuh Para ahli sepakat bahwa resiliensi bukanlah sesuatu yang  magis  atau bawaan lahir . Ini adalah kemampuan yang bisa dipelajari dan dikembangkan oleh setiap anak—mencakup tingkah laku, pikiran, dan tindakan . Profesor Emmy Werner, melalui penelitian legendarisnya di Kauai, menemukan bahwa anak-anak yang berhasil bangkit dari keterpurukan—bahkan dari kondisi yang sangat berat sekalipun—bukan karena mereka anak "istimewa" sejak lahir. Faktor paling kuat yang membedakan mere...

STOP! Jangan Marah Dulu! Ini Cara Tepat Hadapi Anak yang Suka Memukul

Pernah nggak sih, Bunda dan Ayah, dibuat kaget sekaligus khawatir saat si kecil yang imut tiba-tiba melayangkan tangan ke teman mainnya? Atau mungkin, ke Bunda sendiri? Tenang, Bunda dan Ayah nggak sendirian! Banyak orang tua yang mengalami fase "baby fighter" ini. Kabar baiknya, perilaku ini adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang anak, lho! Kenapa Si Kecil Bisa Agresif? Pertama-tama, mari kita lihat dulu dari sudut pandang si kecil. Bayangkan, Bunda dan Ayah punya perasaan dan keinginan yang kuat, tapi belum bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Pasti frustasi, kan? Nah, itulah yang dialami balita usia 2 tahun.  1. Ekspresi Frustasi Tanpa Kata-Kata Menurut psikolog anak Emily Mudd, PhD, anak-anak di tahap ini cenderung menggunakan ekspresi fisik untuk mengungkapkan rasa frustrasi karena kemampuan bahasa mereka belum memadai . Memukul, menggigit, atau menendang bukanlah tindakan jahat, melainkan cara mereka berkomunikasi. Mereka mungkin merasa lapar, ngantuk, ...