Pernahkah Anda merasa kewalahan menjadi orang tua? Merasa harus selalu sempurna? Tenang, Anda tidak sendiri. Dr. Aliza Pressman, psikolog perkembangan dan pembawa acara podcast Raising Good Humans, menawarkan pendekatan yang justru melegakan: lepaskan kesempurnaan . Menurutnya, menjadi orang tua bukanlah tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menjadi "cukup baik" secara konsisten .
Setelah lebih dari 15 tahun meneliti dan bekerja dengan keluarga, Dr.
Pressman merangkum ilmu pengasuhan ke dalam lima prinsip inti yang ia sebut
"5R": Hubungan, Refleksi, Regulasi, Aturan, dan Perbaikan . Lima
prinsip ini adalah fondasi yang bisa kita gunakan untuk membimbing anak-anak
kita menjadi manusia yang tangguh dan baik hati, sambil tetap menjaga kesehatan
mental kita sendiri.
Berikut penjelasan santai dari prinsip "5R" yang bisa langsung
Anda praktikkan:
1. Hubungan (Relationship)
Prinsip pertama dan paling utama adalah hubungan. Penelitian selama
puluhan tahun menunjukkan bahwa faktor paling kuat yang membuat anak bisa
bangkit dari kesulitan adalah kehadiran hubungan yang hangat dan
mendukung dengan setidaknya satu orang dewasa yang stabil . Hubungan
inilah yang menjadi fondasi rasa aman dan kebahagiaan anak.
Yang bisa
dilakukan:
Bangun kepercayaan lewat momen-momen kecil sehari-hari. Cari kegembiraan
bersama anak. Jadilah "pelabuhan aman" pertama yang mereka cari saat
merasa takut atau kesulitan. Luangkan waktu 5 menit untuk bermain sesuai
keinginan anak, tanpa intervensi atau arahan dari kita .
2. Refleksi (Reflection)
Prinsip ini mengajak kita untuk berhenti sejenak sebelum
bereaksi secara emosional terhadap anak. Dr. Pressman menyebut ini
sebagai "meditasi mikro" di sela-sela kesibukan . Refleksi
membantu kita menciptakan jarak psikologis dari situasi, sehingga kita bisa
merespons dengan lebih bijak . Ini juga tentang merenungkan bagaimana
pengalaman masa lalu kita memengaruhi cara kita mengasuh anak saat ini .
Yang bisa
dilakukan:
Tarik napas dalam setiap kali Anda berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas
lain . Ini menenangkan sistem saraf Anda. Luangkan waktu 5 menit untuk
menuliskan cerita tentang diri Anda sebagai orang tua—nilai-nilai apa yang
paling ingin Anda tanamkan pada anak? Ini akan menjadi "kompas"
Anda .
3. Regulasi (Regulation)
Prinsip ini mengajarkan bahwa anak belajar menenangkan diri
dengan melihat ketenangan dari orang tuanya . Ketika anak sedang
"badai" emosi dan kita membalas dengan teriakan, kita justru seperti
bertemu badai dengan badai lain. Anak-anak "meminjam" sistem saraf
kita untuk menenangkan diri .
Yang bisa
dilakukan:
Kelola emosi Anda terlebih dahulu sebelum mencoba mengendalikan perilaku anak.
Tarik napas dalam-dalam sebelum merespons. Lihatlah sekeliling dan sebutkan 5
warna yang Anda lihat untuk mengalihkan fokus sejenak, lalu respons dengan
tenang .
4. Aturan (Rules)
Bertentangan dengan anggapan umum, batasan yang konsisten dan
jelas justru membuat anak merasa terlindungi dan aman . Aturan
bukanlah tentang kontrol, tetapi tentang mengajarkan anak pentingnya
batasan . Inilah yang membantu anak memahami perilaku mana yang boleh dan
tidak boleh dilakukan .
Yang bisa
dilakukan:
Tetapkan aturan yang selaras dengan nilai-nilai utama keluarga Anda. Jangan
mengubah aturan hanya demi menghindari amukan anak. Gunakan kalimat
"tolong lakukan..." untuk perilaku positif, daripada hanya melarang.
Misalnya, alih-alih "jangan buang makanan", katakan "tolong
makanannya dimakan ya" .
5. Perbaikan (Repair)
Inilah prinsip yang paling melegakan: kesalahan adalah peluang
emas untuk memperkuat kembali ikatan batin . Tidak ada orang tua yang
sempurna. Yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaiki hubungan setelah
terjadi konflik atau kesalahpahaman. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang
sehat justru bisa menjadi lebih kuat setelah melalui perselisihan .
Perbaikan adalah ruang di mana kita bertumbuh .
Yang bisa
dilakukan:
Segera perbaiki hubungan setelah konflik. Tunjukkan pada anak bahwa hubungan
tetap kuat meski pernah mengalami perselisihan. Anda bisa memulai dengan
"Maafkan Ibu/Ayah...", "Aku sayang kamu", atau memvalidasi
perasaan mereka dengan mengatakan, "Aku tahu kamu kecewa..." .
🌟 Pesan Penting dari Dr. Aliza Pressman
Dalam salah satu wawancaranya, Dr. Pressman membagikan satu kalimat yang
sangat powerful: "All feelings are welcome; all behaviors are
not." (Semua perasaan boleh hadir; tidak semua perilaku boleh
dilakukan) .
Ini berarti kita perlu mengajarkan anak bahwa mereka boleh marah,
kecewa, atau kesal—itu adalah bagian dari menjadi manusia. Namun, bagaimana
mereka mengekspresikan perasaan itu harus dalam batasan yang aman dan tidak
merugikan orang lain . Pesan ini juga penting untuk kita ingat sebagai
orang tua: perasaan kita juga valid, tetapi kita bertanggung jawab atas respons
kita.
Kesimpulan
Prinsip "5R" mengajak kita untuk bertumbuh bersama anak. Dalam
proses membesarkan mereka, kita sebenarnya juga sedang membesarkan diri
kita sendiri . Dengan menjadi pribadi yang lebih sadar dan penuh niat,
kita menjadi orang tua yang lebih baik. Lupakan tekanan untuk menjadi sempurna.
Mulailah dengan satu prinsip hari ini, dan ingatlah bahwa "cukup
baik" sudah sangat, sangat berarti.
📚 Referensi
- Pressman, A.
(2025). The 5 Principles of Parenting: Your Essential Guide to
Raising Good Humans. Headline Publishing Group.
- Pressman, A.
(2024). The 5 Principles of Parenting: Your Essential Guide to
Raising Good Humans. Simon Element.
- Pressman, A.
(2024). 5 Prinsip Pengasuhan Anak: Panduan Penting untuk
Membesarkan Manusia yang Baik (Edisi Bahasa Indonesia).
Gramedia.
- Thrive
Global. (2024, February 21). This Parenting Advice Helps You
"Raise Good Humans" by Tuning In With Yourself.
- JUF.org. (2024, March
18). Raising resilient—not perfect—children.
- The Times of
India. (2025, December 31). Top psychologist reveals the best
parenting advice every parent must know.
- On Purpose
with Jay Shetty (Podcast). Dr. Aliza Pressman: How to Avoid Your
Parents Mistakes & Raise Confident and Resilient Kids

Komentar
Posting Komentar