Bayangkan pagi yang riuh: kopi Anda tumpah di atas dokumen penting, si kecil merajuk karena sereal favoritnya habis, dan Anda baru sadar kunci mobil terselip entah di mana. Rasanya ingin menyerah saja, kan?
Selamat datang di dunia parenting. Menjadi orang tua memang sering
terasa seperti mencoba mengurai gulungan benang kusut. Melelahkan,
membingungkan, tapi di saat yang sama, kita sangat ingin memberikan yang
terbaik bagi si kecil.
Dr. Aliza Pressman, pakar perkembangan anak dan penulis The 5
Principles of Parenting, mengingatkan bahwa karakter seseorang sering
terlihat dari caranya menghadapi tiga hal sederhana: hari yang hujan,
koper yang hilang, dan lampu Natal yang kusut. Inilah inti dari
resiliensi—bukan hanya tentang menghadapi trauma besar, tapi tentang bagaimana
kita dan anak-anak kita beradaptasi dengan kerumitan kecil sehari-hari, agar
tetap bisa berfungsi dengan sukacita.
Seperti yang dikatakan Ann S. Masten, pelopor teori ordinary
magic dalam resiliensi, kemampuan bertahan ini bukanlah sesuatu yang
magis atau langka. Justru sebaliknya: resiliensi adalah ordinary magic—keajaiban
biasa yang tumbuh dari sistem adaptasi manusia yang sudah ada dalam diri kita
semua.
Metode GAMES ini hadir sebagai panduan praktis untuk
menumbuhkan ordinary magic itu dalam keseharian kita. Yuk,
kita bedah satu per satu!
G untuk Gratitude (Rasa Syukur)
Rasa syukur bukan sekadar bilang "terima kasih", tapi penawar
mental bagi perasaan merasa berhak (entitlement). Secara sains,
bersyukur melatih otak kita untuk hunting for good—memburu kebaikan
di tengah kesulitan.
Latihan 4 Menit:
- Pasang timer
selama 4 menit.
- Tanyakan
berulang: "Apa yang membuatmu bahagia hari ini?"
- Aturan:
setiap jawaban harus berbeda!
- Jawaban
seperti "es krim cokelat" atau "melihat burung di
pagar" justru menunjukkan otak anak mulai jeli mencari kebaikan
kecil.
Latihan ini mengajarkan anak bahwa kebahagiaan tidak selalu menunggu
momen besar—ia ada di celah-celah kecil hari-hari kita.
A untuk Autonomy (Otonomi)
Banyak dari kita berpikir membantu anak melakukan segala hal adalah
bentuk cinta. Padahal, Dr. Pressman mengingatkan: "Biarkan anak
melakukan sendiri apa yang sudah bisa mereka lakukan."
Kenapa? Karena kompetensi membangun kepercayaan diri.
Kepercayaan diri anak tumbuh dari rasa bangga saat mereka berhasil memakai
sepatu sendiri atau merapikan tempat tidur—bukan dari pujian kosong "Kamu
hebat!".
Teori Determinasi Diri dari Ryan & Deci juga menegaskan: otonomi
adalah salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia. Ketika anak punya ruang
untuk memilih dan bertanggung jawab, motivasi intrinsik mereka tumbuh subur.
Checklist Otonomi Kecil:
- Membiarkan
anak memilih baju (meskipun warnanya tidak nyambung)
- Memberi
tanggung jawab membawa tas sekolah sendiri
- Membiarkan
mereka mencoba menuang air ke gelas sendiri
- Memberi ruang
untuk menyelesaikan konflik kecil dengan teman sebelum kita turun tangan
Tapi ingat, otonomi butuh koridor bernama Rules (Aturan).
Prinsipnya: "Semua perasaan boleh diterima, tapi tidak semua
perilaku boleh dilakukan." Anak merasa aman ketika tahu ada batas
yang menjaga mereka tetap selamat.
M untuk Motivation (Motivasi)
Mari buang jauh-jauh slogan "Latihan membuat sempurna". Ganti
dengan: "Latihan membuat kemajuan" (practice
makes progress). Fokus pada proses dan pertumbuhan, bukan hasil akhir atau
angka di rapor.
Dr. Pressman punya cerita lucu tentang ini. Suatu hari ia tanpa sengaja
membakar buncis karena salah menaruh rak di oven. Alih-alih berkata,
"Aduh, bodoh banget sih saya!", ia mengoreksi diri di depan anaknya:
"Wah, sekarang saya jadi tahu apa yang terjadi kalau buncis ditaruh di rak
paling atas. Lain kali saya taruh di tengah ya!"
Respon saat anak gagal: Jangan
langsung dikasihani atau diperbaiki. Tunjukkan bahwa kegagalan adalah
"data" untuk belajar. Gunakan bahasa yang menghargai usaha:
"Wah, kamu sudah mencoba cara ini ya? Kira-kira apa yang bisa kita ubah
supaya hasilnya beda?"
E untuk Empathy (Empati)
Anak belajar empati dengan cara merasakannya dari kita. Pakar psikologi
perkembangan Ziadatul Hikmiah dari Universitas Brawijaya menekankan bahwa
institusi keluarga adalah microsystem pertama dan terpenting
tempat nilai-nilai dasar terbentuk.
Tapi hati-hati dengan co-rumination—ketika kita ikut
"duduk di dalam sup emosi" anak. Jika anak menangis karena tidak
diajak ke pesta, Anda tidak perlu ikut menangis atau terus-menerus membicarakan
betapa jahatnya teman itu. Itu hanya akan membuat mereka merasa masalahnya
tidak ada jalan keluar.
Empati yang sehat adalah menjadi jembatan menuju aksi:
- Validasi: "Ibu paham kamu sedih dan
kecewa karena tidak diajak."
- Hadir: Temani mereka dalam perasaan itu
sejenak tanpa menghakimi.
- Batas: "Ayah tahu kamu lelah sekali
hari ini, tapi tugas ini tetap harus diselesaikan sedikit ya."
S untuk Self-Regulation (Regulasi Diri)
Ini adalah kunci dari segala kunci. Dr. Pressman menyebutnya "meminjamkan
sistem saraf Anda" (lending your nervous system). Terutama
bagi anak yang sensitif, mereka butuh meminjam ketenangan Anda untuk
menenangkan diri mereka sendiri.
Emosi itu menular. Jika Anda masuk ke kamar anak dengan napas pendek dan
bahu tegang, anak akan ikut merasa terancam. Sebaliknya, kehadiran orang tua
yang tenang secara biologis membantu anak menurunkan detak jantung dan
menenangkan sistem sarafnya.
Gunakan pernapasan sebagai kode akses ke alarm internal
Anda. Saat Anda menarik napas panjang, Anda mengirim sinyal ke otak bahwa
lingkungan aman. Itulah mengapa kita harus tenang terlebih dahulu sebelum
mencoba menenangkan anak.
Penutup: Menjadi Orang Tua yang "Cukup Baik"
Ayah dan Bunda, bernapaslah lega. Anda tidak perlu menjadi orang tua
sempurna yang selalu benar setiap saat. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan
orang tua-anak hanya perlu selaras (attuned) sekitar 33% dari
waktu untuk dianggap sehat dan aman.
Lalu, apa yang terjadi dengan 67% sisanya? Di situlah letak Repair (Perbaikan).
Ruang di antara ketidaksepahaman, kemarahan, atau saat kita terlalu asyik
dengan ponsel, adalah ruang di mana kita bisa meminta maaf dan memperbaiki
hubungan.
Proses "pecah lalu tersambung kembali" inilah yang disebut Ann
Masten sebagai ordinary magic—sihir biasa yang justru paling kuat
membangun ikatan abadi dengan anak.
Seperti kata Dr. Pressman, "All feelings are welcome; all
behaviors are not."—semua perasaan boleh hadir, tapi tidak semua
perilaku boleh dilakukan. Dengan prinsip itu, ditambah lima huruf GAMES, kita
sedang menanam benih-benih kekuatan yang akan tumbuh seiring waktu.
Ingatlah, tugas kita bukan membesarkan anak yang tidak pernah jatuh,
tapi membesarkan anak yang tahu cara bangkit kembali—karena mereka tahu Anda
selalu ada sebagai tempat mereka pulang.
Referensi:
- Pressman, A.
(2024). The 5 Principles of Parenting: Your Essential Guide to
Raising Good Humans. Simon Element.
- Masten, A. S.
(2025). Ordinary Magic: Resilience in Development (2nd
ed.). Guilford Publications.
- Hikmiah, Z.
(2025). Wawancara tentang Kesehatan Mental Anak. Prasetya UB.
- Ryan, R. M.,
& Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation
of intrinsic motivation, social development, and well-being. American
Psychologist, 55(1), 68–78.
- Masten, A. S.
(2006). Resiliensi sebagai proses dinamis individu. Dalam Penelitian
Resiliensi, Fakultas Psikologi UI.

Komentar
Posting Komentar