Pernahkah Anda merasa ada sesuatu yang "ganjil" dalam hubungan Anda dengan orang tua, namun kesulitan mengungkapkannya dengan kata-kata? Hal itu bukan soal kekerasan fisik atau bentakan, melainkan lebih kepada perasaan bahwa... ada sesuatu yang tidak beres.
Anda tidak sendirian.
Banyak orang tumbuh besar dengan orang tua yang—baik disengaja maupun
tidak—melanggar batasan-batasan halus yang seharusnya melindungi perkembangan
emosional kita. Yang membuat hal ini begitu berbahaya dan sulit disadari adalah
karena pelanggaran tersebut sering kali terjadi secara diam-diam, bahkan
terkadang terselubung di balik "niat baik" dan "rasa
kepedulian."
Empat Jenis
Pelanggaran Batasan yang Sering Tidak Disadari
1. “Tidak Ada
Apa-apa di Sini”
Bayangkan Anda
menyaksikan sesuatu—mungkin perselingkuhan orang tua, janji yang diingkari,
atau sikap pilih kasih yang mencolok. Namun, mereka justru bersikap seolah-olah
tidak terjadi apa-apa. Mereka menepis kenyataan yang Anda lihat dengan mata
kepala sendiri.
Ini adalah bentuk
*gaslighting*—sejenis manipulasi psikologis yang membuat Anda meragukan intuisi
dan persepsi Anda sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa paparan *gaslighting*
dari orang tua dapat meningkatkan risiko depresi pada remaja, terutama karena korban
mulai memikul tanggung jawab atas peristiwa negatif yang sebenarnya bukan
kesalahan mereka.
"Anak yang
terus-menerus menjadi korban *gaslighting* oleh orang tuanya akan kehilangan
kepercayaan, tidak hanya terhadap orang lain, tetapi juga terhadap diri mereka
sendiri." – Dr. Jeffrey Bernstein
2. "Rahasia
yang Tidak Terjaga"
Pernahkah buku
harianmu dibaca atau pesan pribadimu diintip tanpa izin? Atau, yang lebih parah
lagi, pernahkah urusan pribadimu dijadikan bahan gosip saat acara kumpul
keluarga?
Bahkan di dalam
keluarga sekalipun, privasimu bukanlah konsumsi publik. Ketika orang tua
melanggar batasan privasi, mereka secara tidak langsung menyampaikan pesan
bahwa kamu tidak berhak memiliki duniamu sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa
hal ini merupakan bentuk pengendalian psikologis yang dapat menghambat
pembentukan identitas anak maupun remaja.
3. "Kamu Ada
untukku."
Situasi ini dikenal
sebagai *parentification*—atau pembalikan peran—di mana orang tua memperlakukan
anaknya layaknya pasangan atau terapis. Orang tua tersebut berbagi cerita
mengenai masalah rumah tangga, kesulitan keuangan, atau beban emosional orang
dewasa lainnya yang sebenarnya melampaui kapasitas emosional yang sesuai dengan
usia Anda.
Sebuah penelitian
menunjukkan bahwa *parentification* berperan signifikan dalam hubungan antara
kekerasan emosional yang dilakukan oleh ayah dan harga diri remaja. Dengan kata
lain, jika orang tua membebankan tanggung jawab yang seharusnya tidak perlu Anda
pikul, harga diri Anda perlahan-lahan akan menurun.
4.
"Kepercayaanku kini menjadi milikmu".
Memaksakan
nilai-nilai, pandangan politik, atau sikap permusuhan pribadi kepada anak tanpa
memberi ruang untuk bertanya. Menghukum atau mengucilkan anak yang mulai
berpikir kritis dan memiliki pendapat yang berbeda dari pandangan keluarga.
Anda berhak memiliki
pendapat yang berbeda. Pemikiran Anda adalah milik Anda sendiri. Orang tua yang
sehat seharusnya mendukung eksplorasi jati diri dan pemikiran kritis, alih-alih
memaksakan anak untuk mengikuti keyakinan mereka.
Mengapa hal itu
berbahaya?
Melanggar
batasan-batasan ini sering kali dianggap "wajar" atau "bisa
diterima" dalam budaya kita, yang sangat menjunjung tinggi sikap hormat
kepada orang tua. Namun, penelitian menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai
"kontrol psikologis"—sebuah pola asuh yang ditandai dengan sikap
terlalu mencampuri urusan anak, pembatasan, dan manipulasi—dapat berdampak
negatif terhadap perkembangan psikologis anak.
Dalam budaya
kolektivis seperti Indonesia, di mana otoritas orang tua sangat dihormati,
lebih sulit untuk menyadari pelanggaran batasan ini dan menyatakan keberatan.
Kita diajarkan untuk menghormati orang tua tanpa syarat; akibatnya, kita sering
merasa bersalah ketika menentang tindakan yang melanggar batasan tersebut.
Tanda-tanda Anda
pernah mengalaminya
• Anda sering
meragukan perasaan dan intuisi Anda sendiri.
• Anda merasa
bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tua Anda.
• Anda sulit
memercayai orang lain, atau bahkan diri sendiri.
• Anda merasa
"terjebak" di antara rasa sayang dan benci terhadap orang tua Anda.
Lantas, apa yang
bisa Anda lakukan?
Menyadari adanya
perlakuan yang menyakitkan ini adalah langkah awal yang krusial. Berikut adalah
beberapa saran dari para psikolog:
1. Akui bahwa
pengalaman Anda itu nyata dan valid. Perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak
beres—itu memang nyata.
2. Pandanglah orang
tua Anda sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Hal ini membantu
Anda agar tidak memasukkan komentar atau tindakan mereka ke dalam hati.
3. Tetapkan batasan
yang sehat. Anda berhak mengatakan "tidak" terhadap peran yang bukan
merupakan tanggung jawab Anda.
4. Carilah
dukungan—baik dari teman, komunitas, maupun profesional kesehatan mental.
"Orangtua yang
sehat memfasilitasi perkembangan anak dengan memberikan umpan balik yang
konsisten dan akurat tentang diri anak dan dunia di sekitar mereka." — New
Harbinger Publications
Anda bukanlah orang
yang "membangkang" hanya karena ingin menetapkan batasan. Anda adalah
manusia yang sedang belajar melindungi diri sendiri. Dan hal itu bukanlah dosa,
melainkan sebuah proses pemulihan.
Referensi:
- Çelik Kanca, B., et al. (2025). The
mediating role of parentification in the effect of perceived abuse by
adolescents from their parents on self-esteem. BMC Psychology,
13(1), 1308.
- ScienceDirect (2026). Gaslighting in
parent-child relationships: Psychometric validation and longitudinal
associations with depressive symptoms in Chinese samples. Child
Abuse & Neglect.
- Barber, B.K. (Ed.). (2002). Intrusive
parenting: How psychological control affects children and adolescents.
American Psychological Association.
- Hulbert, K., & Charlton, S.R. (2024).
But What Really Happened? The Importance of Understanding Gaslighting in
Child Development. Psi Chi.
- Madden-Derdich, D.A., et al. (n.d.). The
Boundary Violations Scale: An empirical measure of intergenerational
boundary violations in families. Arizona State University.
- Teahan, P. (2024). Sneaky Boundary Crossings of the Toxic Parent. Patrick Teahan Therapy.
- New Harbinger Publications (2025). Childhood Trauma Associated with Frequent Lying and Gaslighting by a Parent.

Komentar
Posting Komentar