Pernahkah Anda merasa sangat kelelahan, bahkan tanpa melakukan aktivitas fisik yang berat? Atau pernahkah Anda merasa pikiran Anda tak pernah berhenti berpacu—terus-menerus sibuk, bahkan saat Anda sedang tidur, memikirkan jadwal anak-anak, persediaan makanan, dan daftar belanjaan yang belum tuntas?
Jika ya, Anda tidak
sendirian. Namun, ada kabar buruknya: kelelahan ini bukan sekadar ada di
pikiran Anda; hal ini nyata dan memiliki istilah ilmiah: "beban
mental" (*mental load*).
Bayangkan Anda adalah
seorang manajer proyek di perusahaan besar. Tugas Anda adalah memastikan
segalanya berjalan lancar: mengatur jadwal, memantau inventaris, memantau
tenggat waktu, mengatasi masalah tak terduga, dan menjaga semua orang tetap
puas. Nah, di rumah, peran tersebut sering kali dijalankan oleh para ibu.
"Beban
mental" mengacu pada beban kognitif dan emosional yang tidak proporsional
yang dipikul oleh perempuan—terutama para ibu—dalam mengelola tanggung jawab
rumah tangga, pengasuhan anak, kesejahteraan keluarga, dan hubungan sosial.
Psikolog Yulia Purnamasari menjelaskan bahwa hal ini melibatkan aliran pikiran
atau emosi berlebih yang terus berlangsung bahkan saat tubuh sedang
beristirahat.
Intinya: pikiran
seorang ibu tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Selalu ada "daftar
tugas" yang berputar di benaknya.
Menurut Lucia Ciciolla, Ph.D., seorang psikolog di Oklahoma State University, beban mental ini sangat menguras tenaga justru karena sifatnya yang tak terlihat. "Meskipun secara fisik mereka mungkin tidak melakukan pekerjaan mencuci pakaian itu sendiri, perempuan menyadari bahwa mereka tetap memikul tanggung jawab untuk memastikan pekerjaan tersebut terlaksana—memastikan detergen tidak habis, memastikan semua pakaian kotor masuk ke keranjang cucian, memastikan selalu tersedia handuk bersih, dan sebagainya," jelasnya.
Mengapa Ibu Merasa
Lelah?
Beban yang dihadapi
para ibu tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga kognitif dan emosional—mulai
dari mengurus kebutuhan serta jadwal kegiatan setiap anak hingga mengelola
dinamika hubungan keluarga. Lely Nur Azizah, M.Si., seorang lektor kepala
(associate professor) bidang Psikologi di UNESA, mencatat bahwa meskipun
kelelahan biasa dapat pulih setelah beristirahat, *burnout*—kondisi kelelahan
emosional yang berkepanjangan—ditandai dengan hilangnya keterlibatan emosional
serta meningkatnya perasaan tidak kompeten.
Parahnya, masyarakat sering kali menganggap beban ini sebagai hal yang wajar. Sebuah studi di Yogyakarta menemukan bahwa meskipun para ibu mengalami "beban mental" terkait pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, dan keuangan, banyak yang awalnya tidak menyadarinya sebagai beban; mereka justru menganggap tugas-tugas tersebut semata-mata sebagai "tugas alami" seorang ibu.
Jebakan Heroisme:
Saat Menjadi "Superwoman" Bukanlah Sebuah Prestasi
Di sinilah letak
bahaya terbesarnya. Saat seorang ibu sudah merasa kelelahan, sering kali muncul
dorongan untuk menjadi satu-satunya pahlawan bagi keluarga. Hal ini dikenal
sebagai "jebakan heroisme."
Menurut teori
psikologi *Karpman's Drama Triangle* (Segitiga Drama Karpman), tindakan
terus-menerus "menyelamatkan" orang lain dapat memicu pola hubungan
yang tidak sehat. Pihak penyelamat terus memberikan bantuan, pihak korban tetap
bergantung, dan pihak penuduh terus melimpahkan kesalahan. Dalam lingkup
keluarga, ibu sering kali mengambil peran sebagai "penyelamat" karena
merasa berkewajiban untuk menjaga agar situasi tetap terkendali dan semua
anggota keluarga tetap baik-baik saja.
Penelitian mengenai
heroisme juga menunjukkan bahwa berperan sebagai "pahlawan" dalam
kehidupan sehari-hari dapat menyebabkan kelelahan emosional. Elaine Kinsella,
seorang peneliti bidang heroisme dari University of Limerick, menemukan bahwa
tekanan untuk menjadi "pahlawan" dapat berdampak buruk bagi
kesejahteraan psikologis seseorang.
Para ibu sering kali
merasa bahwa mereka:
• Harus selalu siap sedia bagi siapa
saja
• Harus tahu persis kepada siapa
mereka harus meminta bantuan
• Harus menunggu dengan sabar tanpa
pernah mengeluh
• Harus terlihat sempurna dalam
segala hal
Namun, semua itu adalah harapan yang keliru. Anggapan bahwa seorang ibu harus mampu melakukan segalanya tanpa bantuan orang lain merupakan sebuah kesalahpahaman yang serius.
Risiko terhadap
pola asuh
Hal yang paling
mengkhawatirkan adalah bahwa kelelahan mental ini dapat berdampak buruk bagi
orang tua. Ibu yang mengalami kelelahan mental berisiko terjebak dalam
pola-pola yang toksik:
Jebakan rasa bersalah:
Membuat anak merasa bersalah atas pengorbanan besar yang telah dilakukan sang
ibu. "Berhenti meminta ini-itu; Ibu sudah terlalu lelah." Komentar
seperti ini tanpa sadar dapat menanamkan rasa bersalah pada anak.
Menuntut kesempurnaan:
Menekan anak untuk menjadi sempurna demi menutupi perasaan tidak mampu dalam
diri ibu sendiri. "Kamu harus jadi yang terbaik di kelas; jangan bikin Ibu
malu." Ini merupakan proyeksi dari perasaan mendalam bahwa dirinya tidak
pernah "cukup baik."
Penularan luka batin: Jika tidak dipulihkan, seorang ibu mungkin secara tidak sadar mewariskan luka masa kecilnya sendiri kepada anaknya. Gaya pengasuhan yang keras atau penuh tekanan sering kali merupakan warisan yang diturunkan dari generasi sebelumnya.
Cara membebaskan
diri dari jebakan ini
Yakinlah: ada jalan keluarnya.
Pemulihan dimulai dengan mengakui bahwa Anda adalah manusia yang membutuhkan
bantuan.
1. Akui kelemahan
Anda.
Anggaplah rasa lelah
sebagai hal yang wajar. Jangan menyalahkan diri sendiri saat melakukan
kesalahan. Vera Itabiliana Hadiwidjojo, seorang psikolog klinis dari
Universitas Indonesia, menekankan pentingnya memberikan apresiasi kepada para
ibu—bahkan melalui tindakan sederhana, seperti meletakkan barang-barang kembali
ke tempatnya. Hal ini menumbuhkan rasa dihargai dan memperkuat efikasi diri,
sehingga membantu ibu mengatasi stres serta mengurangi risiko depresi.
2. Bagi tanggung
jawab.
Para ayah perlu hadir
secara emosional dan terlibat aktif dalam urusan rumah tangga. Sebuah studi
*Participatory Action Research* (PAR) yang dilakukan di Yogyakarta menunjukkan
bahwa ketika para ibu mengakui beban mental yang mereka pikul dan mulai berkomunikasi
dengan pasangannya, terjadi perubahan perilaku terkait pembagian tugas rumah
tangga. Dukungan yang memadai dari pasangan dan keluarga terbukti menjadi
faktor pelindung terhadap risiko kelelahan ekstrem (*burnout*) pada ibu.
3. Cari bantuan.
Mencari bantuan profesional kesehatan mental adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan keluarga, bukan tanda kelemahan. Yulia Purnamasari mengatakan: "Beban mental ini tidak bisa dipikul sendirian. Hal ini perlu dibagi dan dibicarakan, dan dibutuhkan keberanian untuk meminta bantuan."
Kesimpulan
Menjadi seorang ibu memang merupakan perjalanan yang luar biasa, namun bukan berarti Anda harus menjalaninya seorang diri. Tidak apa-apa untuk beristirahat. Tidak apa-apa untuk meminta bantuan. Bahkan pahlawan super pun membutuhkan tim dan waktu untuk memulihkan tenaga. Anda berhak atas kebahagiaan, kesejahteraan mental, dan kesempatan untuk menjadi ibu yang baik—bukan karena Anda sempurna, melainkan karena Anda peduli dan senantiasa belajar.
Referensi
- Andayani, Rahma, S.Z., & Noorkamilah.
(2025). Menyuarakan Beban Tak Terlihat, Mental Load Ibu: Sebuah
Riset Aksi. International Da'wah Conference, UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta.
- Dethmer, J., Chapman, D., & Klemp,
K. The 15 Commitments of Conscious Leadership (dikutip
dalam Medical Protection, 2026).
- Lely Nur Azizah, M.Si. (2025). Dosen
Psikologi UNESA Dorong Literasi Kesehatan Mental Ibu. Radio Suara
Surabaya.
- Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga.
(2025). Membongkar Beban Tak Terlihat: PAR tentang Mental Load Ibu
Rumah Tangga.
- Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi.
(2024). Pentingnya Apresiasi Ibu untuk Jaga Kesehatan Mentalnya. Kompas.com.
- Kinsella, E.L. & Sumner, R.C.
(2021). Grace Under Pressure: Resilience, Burnout, and Wellbeing
in Frontline Workers. Frontiers in Psychology.
- Yulia Purnamasari. (2026). Mental
Load Ibu Kerap Tak Disadari. RRI Samarinda.
- Ciciolla, L., Ph.D. (dikutip dalam Parapuan.co, 2023). Mengenal Apa Itu
Mental Load.
- Hariati Sinaga & Luh Ayu Candra
(dikutip dalam Magdalene.co, 2026). Stigma
Moral, Carework Overload, dan Beban Mental Ibu.

Komentar
Posting Komentar