Pernah nggak sih, merasa pusing tujuh keliling menghadapi ulah si kecil yang tiba-tiba suka membantah atau melanggar aturan? Tenang, Bun, Pak. Anda tidak sendirian. Perilaku menantang anak adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang mereka. Bukan berarti anak kita "nakal", lho.
Di usia 5 tahun, misalnya, si kecil sedang berada di fase "stretch
boundaries". Mereka sedang asyik menguji apakah aturan itu benar-benar
berlaku di mana-mana atau cuma berlaku saat ada orang tua saja. Ini sebenarnya
tanda kognitifnya sedang berkembang pesat, lho! Mereka mulai berpikir kritis
dan sistematis .
Lalu, kenapa instruksi "Jangan lari!" sering diabaikan?
Menurut psikolog perkembangan, anak di bawah 7 tahun masih berpikir sangat
konkret . Otak mereka kesulitan memproses kalimat negatif. Saat kita
bilang "Jangan lari", yang tertangkap di otak mereka adalah kata
"lari". Jadi, alih-alih berhenti, mereka malah makin semangat kabur!
Solusinya? Gunakan instruusi positif dan konkret. Coba ubah "Jangan
lari" menjadi "Yuk, jalan pelan-pelan sambil pegang tangan Ibu".
Dengan begitu, otak anak langsung menangkap satu instruksi jelas yang bisa
dilakukan .
Stop! Bahaya Tersembunyi di Balik Hukuman
Seringkali, karena jengkel, kita tergoda memberi hukuman. Tapi
hati-hati, Bun, Pak. Psikolog klinis UI, Kasandra Putranto, menegaskan bahwa
hukuman fisik sudah tidak relevan dan terbukti memberikan dampak negatif, baik
secara fisik maupun psikis, tanpa jaminan anak akan berubah jadi lebih baik di
masa depan .
Pakar disiplin positif, Dr. Jane Nelsen, juga punya pertanyaan menarik:
"Dari mana kita mendapat ide gila bahwa untuk membuat anak berperilaku
baik, pertama-tama kita harus membuat mereka merasa malu, terhina, atau bahkan
kesakitan?" . Hukuman memang mungkin ampuh menghentikan perilaku
buruk saat itu juga, tapi dampak jangka panjangnya bisa memicu 4R: Resentment (Kebencian), Revenge (Balas
Dendam), Rebellion (Pemberontakan), dan Retreat (Mundur,
yang bisa berarti berbohong atau menarik diri) .
Selain itu, konsistensi adalah kunci. Jika aturan berubah-ubah—misalnya,
di rumah nenek jadi boleh main seharian—anak akan belajar bahwa aturan bisa
"ditawar". Penelitian bahkan menunjukkan bahwa inkonsistensi aturan
dapat memicu masalah perilaku pada anak .
3 Jurus Jitu Disiplin Positif (Tanpa Marah-marah!)
Lalu, gimana dong caranya mendisiplinkan anak tanpa harus bentak atau
hukum? Tenang, ada 3 alternatif yang jauh lebih efektif dan membuat anak merasa
dihargai.
1. Konsekuensi Natural: Biarkan Alam Bicara
Ini adalah biarkan anak merasakan sendiri akibat dari pilihannya, selama
masih aman. Misalnya, kalau anak menolak makan malam, biarkan ia merasakan
lapar. Ini adalah pelajaran berharga tentang tanggung jawab atas pilihannya
sendiri .
2. Konsekuensi Logis: Hubungan Sebab-Akibat
Berikan konsekuensi yang langsung berhubungan dengan kesalahan. Jika
anak menumpahkan susu, minta ia mengelapnya. Bukan untuk menghukum, tapi untuk
mengajarkan tanggung jawab. Seperti yang dijelaskan Jane Nelsen, kuncinya
adalah nada bicara yang tetap baik dan tegas, misalnya: "Ups, adik tumpah
ya. Sekarang kita lap bareng, yuk, biar lantainya nggak licin" .
3. Fokus pada Solusi: Ajak Anak Berpikir
Alih-alih menyalahkan, ajak anak mencari solusi agar kesalahan tidak
terulang. Tanyakan, "Bagaimana ya caranya supaya mainan adik nggak
berserakan lagi?" Dengan melibatkan anak, mereka merasa dihargai dan lebih
bertanggung jawab atas keputusannya sendiri .
Ingat, Bun, Pak. Disiplin positif bukan tentang memanjakan, tapi tentang
mengajarkan. Anak-anak akan lebih termotivasi untuk bekerja sama ketika mereka
merasa terhubung dan dicintai, bukan ketika mereka merasa takut .
Selamat mencoba, ya! Perjalanan mengasuh anak memang penuh tantangan,
tapi dengan pendekatan yang tepat, kita bisa melewatinya dengan lebih santai
dan penuh cinta.
Referensi:
- Yayasan Rumah
Impian Indonesia. Workshop on Positive Discipline. (2025) .
- ANTARA News.
Psikolog sebut hukuman fisik tidak relevan didik anak kecil masa kini.
(2025) .
- Nelsen,
J. Positive Discipline. (2006) .
- Nelsen,
J. Positive Discipline: The First Three Years. (2007) .
- Nelsen,
J. Positive Discipline for Preschoolers. (2007) .
- Sumargi, A.
M., et al. Kampanye Pengasuhan Positif Melalui Buku Kecil
(Booklet)... Jurnal Dinamisia. (2021) .
- Pasiningsih,
P. Can The Inconsistency of Rules Between Parents and School Create
Children's Behavioral Problems? IJEIECE. (2023) .
- UNESA.
Kedisiplinan Positif: Mengapa Konsekuensi Logis... (2025) .
- Healthline.
Understanding Concrete Thinking. (2019) .
- Universitas
Surabaya (UBAYA). Apresiasi Emosi Anak, Hindari Membentak. (2020) .
- TeachThought.
Piaget Learning Theory: Stages Of Cognitive Development. (2025) .
- The Book of
Inara. Understanding Your Child's Developing Brain. (2025)

Komentar
Posting Komentar