Pernah nggak sih, kamu merasa saudaramu selalu jadi favorit orang tua? Atau justru kamu yang selalu merasa harus sempurna karena takut mengecewakan mereka? Ternyata, fenomena orang tua pilih kasih ini bukan sekadar perasaan, lho. Psikolog klinis anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi, menyebutkan bahwa tindakan pilih kasih orang tua dalam jangka panjang bisa berdampak negatif terhadap perkembangan anak, bahkan membuat anak jadi tidak percaya diri.
Dua Sisi Mata Pisau: Golden Child dan Scapegoat
Dalam keluarga yang menerapkan pola pilih kasih, biasanya ada dua peran
ekstrem yang disandang anak-anaknya. Psikolog menyebut ini sebagai
dinamika golden child dan scapegoat atau
kambing hitam.
Si Anak Emas (Golden Child)
Anak ini selalu dipuji dan seolah-olah nggak pernah salah. Tapi jangan
salah, di balik pujian itu ada beban berat. Mereka tumbuh dengan keyakinan
bahwa kasih sayang itu transaksional—mereka dihargai hanya kalau bisa
membanggakan atau menuruti kemauan orang tua. Akibatnya? Mereka haus akan
pengakuan, takut gagal, dan kesulitan menemukan jati diri mereka yang
sebenarnya.
Si Kambing Hitam (Scapegoat)
Di sisi lain, ada anak yang selalu disalahkan atas segala masalah,
bahkan masalah hubungan orang tua sekalipun . Dalam psikologi, ini disebut
sebagai identified patient—anak yang dijadikan "sasaran
tembak" atas disfungsi keluarga . Mereka tumbuh dengan perasaan
"aku nggak pernah cukup baik," dan anehnya, karena terbiasa disakiti,
mereka jadi lebih toleran terhadap kekerasan saat dewasa.
Dampak yang Nggak Bisa Dianggap Remeh
Penelitian dari American Psychological Association (APA) yang dipimpin
oleh Alexander Jensen, PhD, mengungkapkan bahwa anak-anak yang merasa kurang
diistimewakan cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih buruk dan hubungan
keluarga yang lebih tegang . Bahkan, dampaknya bisa terbawa sampai dewasa:
- Kesulitan
membangun batasan (boundaries)—sulit berkata "tidak" atau menjaga privasi.
- Siklus
trauma berulang—tanpa
kesadaran untuk pulih, luka ini berisiko diturunkan ke generasi
berikutnya. Penelitian menunjukkan bahwa pola pilih kasih orang tua
cenderung diulang oleh anak-anak mereka saat sudah memiliki keluarga
sendiri.
- Mudah
dimanipulasi rasa bersalah (guilt-tripping)—orang tua menggunakan pengorbanan masa
lalu untuk memaksa anak menuruti keinginan mereka saat ini.
Kenapa Orang Tua Bisa Pilih Kasih?
Yang mengejutkan, banyak orang tua nggak sadar kalau mereka bersikap
pilih kasih. Misalnya, mereka memberi perhatian lebih ke anak yang dianggap
lebih lemah, atau merasa lebih nyaman dengan anak yang memiliki kepribadian
mirip dengan mereka. Sebuah meta-analisis dari APA bahkan menemukan bahwa anak
perempuan dan anak yang bertanggung jawab cenderung lebih difavoritkan.
Psikolog Anna Surti Ariani menekankan bahwa memberikan kasih sayang yang
sama bukan berarti memberikan perhatian yang sama rata, tapi disesuaikan
dengan kebutuhan masing-masing anak.
Langkah Menuju Pemulihan
Kabar baiknya, luka masa kecil bisa disembuhkan. Berikut langkah yang
bisa kamu ambil:
- Akui bahwa
luka itu ada—ini adalah
langkah pertama untuk memutus rantai toksik.
- Cari
bantuan profesional—konsultasi
dengan psikolog atau psikiater bisa membantu memproses trauma masa kecil
secara sehat.
- Belajar
menjadi orang tua yang bijak—fokus pada perkembangan emosional anak, bukan menjadikannya alat
kebahagiaan Anda. Seperti yang disarankan psikolog, temukan dan sampaikan
kelebihan unik masing-masing anak, jangan hanya fokus pada kekurangannya.
"Healing isn't about blaming your
past—it's about not letting it write your future."
Pemulihan bukanlah tentang menyalahkan masa
lalu—melainkan tentang tidak membiarkannya menentukan masa depan.
Referensi:
- Kompas.com. (2024). Apa
Dampak Jika Orangtua Pilih Kasih? Berikut Penjelasan Psikolog.
- ANTARA News.
(2024). Tindakan pilih kasih orang tua bisa berdampak negatif pada
anak.
- American
Psychological Association. (2025). Parental favoritism isn't a
myth.
- Cleveland
Clinic. (2025). How To Identify and Heal From Golden Child
Syndrome.
- Suitor, J.
J., et al. (2025). Intergenerational Transmission of Parental
Favoritism and Disfavoritism in Middle and Later Adulthood. Oxford
University Press.
- Yahalom, H.
(2024). The Narcissistic Family Dynamics. Taylor &
Francis.
- Psych
Central. (2019). Triangulation and the Golden Child-Scapegoat
Family Dynamic.
- KlikDokter.
(2021). Awas, Orang Tua Pilih Kasih Bisa Berefek pada Perkembangan
Anak.

Komentar
Posting Komentar